Mengapa Imam ITB Menggetarkan Kita?

Beberapa hari ini, di laman Facebook saya banyak berseliweran tautan soal itu imam muda dari ITB yang bacaannya banyak bikin orang kepingin shalat lagi. Rendisi surat Alfatihah dan Almukminun dari Muzzamil Hasballah, nama kawan kita itu, seperti punya daya magis yang bikin sebagian orang merinding.

Sebagian menuding suara merdu Muzzamil jadi sebabnya. Saya akan mencoba mengambil jalan lain untuk menjelaskan fenomena tersebut.

Begini, menurut saya, sedianya bukan “kemerduan” suara Muzzamil yang bikin darasan Alqurannya demikian mengetarkan. Yang lebih dominan, adalah bagaimana ia begitu menguasai teknik kuno yang namanya melisma.

Melisma ini, adalah teknik menyanyikan satu suku kata dalam pergerakan nada yang berbeda.  Jaman sekarang, dalam musik populer Barat, contoh yang paling gamblang adalah saat mendiang Whitney Houston meneriakkan itu “and aaaaiiiiaaaaaaiiii…” dalam I Will Always Love You. Contoh yang lebih menggetarkan barangkali saat Lady Gaga menyanyikan lagu kebangsaan Amerika Serikat, Februari 2016 lalu.

Di musik barat, melisma kerap dilakukan dengan naik-turun satu tangga nada pentatonik. Ada yang berbeda dengan teknik melisma musik-musik timur. Di wilayah Timur Tengah atau Timur Jauh, eskalasi dan deskalasi kadang kala hanya setengah nada atau bahkan seperempat nada pentatonik.

Saat itu melisma dieksekusi dengan ciamik seperti dalam tarhim yang kerap kita dengar sebelum adzan di masjid-masjid bukan Salafi, ia jadi luar biasa menggetarkan. Begitu juga dengan lantunan erhu dari Cina.

Dalam khazanah musik Tanah Air, teknik melisma setengah nada ini sering dipakai dalam musik Melayu dan pembacaan Macapat Jawa. Ia kemudian dipopulerkan lewat musik Dangdut dan diberi nama teknik cengkok. Salah satu penerapannya yang terbilang fenomenal adalah pada pembukaan “Ani” oleh Abang Haji Rhoma Irama.

Pertanyannya kemudian, mengapa melisma bisa menggetarkan kita? Bisa membuat bulu kuduk berdiri dan melambungkan suasana hati?

Secara saintifik, getaran yang kita rasakan saat mendengar musik-musik yang menggerakkan kerap disebut frisson, dari bahasa Prancis yang terjemahannya kurang lebih “getaran estetika”. Frisson ini bukan hanya bisa datang dari musik. Ia juga bisa datang dari karya-karya seni dan sastra lainnya.

Sejauh ini, telah banyak penelitian soal mengapa manusia merasakan frisson saat mendengarkan musik tertentu.

Seorang ashli neurosaintik dari Estonia, Jakk Panksepp, misalnya, menemukan bahwa manusia lebih mudah tergetar dengan musik-musik dengan alunan perlahan dan melisma yang cenderung menurun nadanya. Orang Indonesia mungkin akrab dengan jenis melisma menurun ini pada adzan, irham, lantunan tilawatil Alquran, juga Macapat.

Sementara David Huron, musikolog dari Cambridge, mengaitkan frisson dengan lompatan dinamika tetiba dalam struktur musik tertentu. Contoh yang bisa saya bayangkan adalah Unforgiven-nya Metallica atau Smell Like Teen Spirit-nya Nirvana yang memainkan perubahan agresifitas musik secara mendadak, atau penggunaan nada-nada dengan rentang yang berjauhan seperti dalam lantunan gitar pembuka Scar Tissue-nya Red Hot Chilli Paper atau lantunan lirik Someone Like You-nya Adele.

George Bubenik, seorang sikolog sekaligus zoologis dari Universitas Guelph, Ontario, menilai, merinding yang kita rasakan melalui musik itu bisa dilacak akarnya dari jejak evolusionis kita. Dia bilang, saat kita masih lebih berbulu dari sekarang, merinding berfungsi untuk melacak perubahan suhu yang tiba-tiba. Saat kita tak memerlukan lagi bulu sebagai pelindung dari cuaca, merinding jadi warisan psikologis yang tak lagi dipicu cuaca, melainkan anasir-anasir psikologis lain, salah satunya musik.

Bagaimanapun, pada akhirnya saya tak berniat membunuh kesakralan dan kenikmatan yang sebagian kita alami saat mendengar teks-teks religius dideraskan atau lagu-lagu favorit didendangkan. Sebaliknya, saat kita tetiba merinding saat jadi jamaah imam tertentu yang jago memainkan melisma, dengan mengerti kompleksitas dibalik pemicu suasana kejiwaan itu, barangkali kita bisa mengingat juga betapa luar biasa Tuhan merancang manusia. []

Advertisements

Dari Mana Datangnya Superhero?

Sejak beberapa tahun belakangan, yang namanya adiwira (saya akan menggunakan kata melayu ini untuk mengganti superhero) tambah rajin seliweran di layar perak dan layar kaca. Makhluk-makhluk yang mulanya muncul di lembaran-lembaran komik tersebut nyatanya ampuh memancing keuntungan untuk Hollywood.

Dari mana mereka datang? Apa yang memicu kemunculan berbagai tokoh imajiner tersebut ke peradaban manusia? Kisah apa yang bisa disampaikan kemunculan mereka soal sejarah manusia?

Mula-mula, mari menengok sejarah para adiwira  dalam komik di Amerika Serikat. Mau dikata bagaimana juga, sejarah komik adiwira lekat sekali dengan pengalaman wangsa Yahudi. Superman, adiwira pertama yang muncul dalam Action Comic pada 1938, adalah ciptaan Joe Shuster dan Jerry  Siegel. Keduanya adalah putra imigran Yahudi Eropa.

Demikian juga, Bob Kane dan Bill Finger yang merancang Batman. Ada juga Will Eisner yang namanya diabadikan sebagai penghargaan puncak buat komikus di AS. Stan Lee yang memberikan kita Fantastic Four, Iron Man, X-Men, dan banyak lagi adiwira Marvel Comic, juga generasi pertama imigran Yahudi. Begitu juga Joe Simon yang mereka Captain Amerika, dan Jack Kirby yang menerjemahkan rekaan Stan Lee dan Joe Simon ke dalam bentuk gambar.

Industri komik, menurut Gerrard Jones dalam buku ciamiknya Men of Tomorrow (2005), juga dimulai sebagai usaha Harry Donenfeld, seorang Yahudi Rumania yang mencari jalan menjual cerita-cerita agar lolos sensor.

Apa yang membuat demikian banyak pemuda Yahudi tersebut membayangkan rerupa adiwira yang kemudian jadi popular? Menurut Jones, ini ada kaitannya dengan pengalaman mereka sebagai imigran minoritas yang merasa lemah posisinya dan kerap dirisak teman-seman sesekolah, juga masyarakat AS dan Eropa kebanyakan saat itu.

Posisi lemah mereka membuat gambaran soal sosok-sosok yang punya kekuatan ajaib dan membantu membuat dunia lebih adil tentu lebih mudah dibayangkan. Tak usah heran kalau hingga saat inipun, sekelompok besar penggemar komik datang dari golongan remaja-remaja yang agak lain dan barangkali kerap dirisak di sekolahan.

Tapi saya kira, sebabnya tak berhenti di situ saja. Bangsa Yahudi sedianya sudah ribuan tahun akrab dengan yang namanya adiwira. Mulai dari Ibrahim yang tak mempan dibakar api, Yakub yang bergulat dengan Tuhan, Samson yang membantai ribuan prajurit lawan berbekal tulang rahang keledai semata, Musa yang tongkat ajaibnya bisa membelah lautan, Sulaiman yang punya kuasa atas hewan-hewan dan cuaca, Daud sang vijilanti yang mengalahkan tiran raksasa.

Dalam satu dan lain hal, keadiwiraan mengalir dalam darah orang Yahudi. Klaim mereka sebagai bangsa pilihan juga saya rasa punya peran merasuki minda anak-anak muda Yahudi di Amerika tersebut dan mengejawantah jadi tokoh-tokoh ajaib.

Nah, jika mulanya ia dipicu tendensi nasib dan warisan sejarah Yahudi, mengapa meledak di AS yang mayoritasnya bukan Yahudi?. Sederhananya, manusia memang sudah sejak lama mudah luluh hatinya oleh kisah-kisah ajaib. Tapi untuk kasus komik adiwira di Amerika Serikat, menarik dilihat bahwa masa munculnya tak lama selepas Friedrich Nietzsche menguarkan konsep ubermensch alias adimanusia di Jerman pada akhir abad ke-19.

Filosofi Nice (saya malas mengeja dengan benar) sedikit-banyak jadi elan zaman itu, terutama buat kalangan bangsa Eropa dan kulit putih. Filosofi tersebut menekankan bahwa kondisi manusia saat itu belum cukup, belum optimal, belum ideal. Bahwa individu maupun kelompok tertentu masih bisa mencapai tingkat lanjut kemanusiaan.

Di Jerman, sekira tiga dekade selepas Nice, konsep ubermensch berevolusi jadi konsep superioritas kulit putih, kemudian Nazi, kemudian pembantaian untermenschen (ras bawah), termasuk bangsa Yahudi. Di Amerika Serikat, oleh anak-anak muda Yahudi pembuat komik, konsep itu jadi Superman putra Kripton, sang adiwira pertama.

Melalui glogalisasi, adiwira kemudian dipaksa jadi milik semua bangsa. Kamala Khan, seorang putri imigran Pakistan AS adalah juga Ms Marvel menurut cerita tuturan Willow Wilson, misalnya. Atau Soraya, muslimah berburqah asal Afghanistan yang bergabung dengan X-Men sebagai Dust dan memiliki kekuatan mengubah diri jadi badai pasir.

Komik adiwira juga mulai berbicara soal-soal pelik macam kesetaraan seksualitas (Wonder Women), kontrol negara terhadap warga masing-masing (rangkaian cerita Civil War), pemeriksaan terhadap kekuatan-kekuatan yang sepertinya tak punya batasan (Watchmen), rasisme (Black Panther), perjuangan hak-hak minoritas (X-Men), perjuangan identitas kultural melawan modernisme (Ms Marvel), konflik keadilan dan moralitas (Superman dan Batman), dan banyak hal lainnya.

Adiwira barangkali mulanya soal Yahudi-Amerika. Kian kesini, peran mereka makin mirip dengan berbagai mitos yang diciptakan umat manusia sejak awal mula zaman: menjelaskan hal-hal pelik yang belum sepenuhnya kita pahami dan sepakati… []

 

Menara…

Setelah sekian lama, saya pulang lagi ke Demak awal bulan ini. Itu kota sedikit sekali berubah, entah siapa yang mesti disalahkan atau dijura.

Saya main juga ke Masjid Demak. Yang aneh dari bangunan itu, ia punya sejenis menara yang tak menyambung dengan bangunan utama. Menara itu berdiri di atas pondasi dari besi-besi berongga yang menapak pada sebuah bidang persegi, berjarak sekira sepuluh meter dari bangunan utama. Ia juga ganjil dibandingkan bangunan utama yang didominasi kekayuan.

Seingat Abah, menara itu belum jadi sewaktu kecil. Alih-alih, di lokasi yang persis sama, ada sebuah lubang galian berbentuk bujur sangkar. Ia terkadang dikerjakan siang, kerap kali malam. Orang- orang yang lewat bertanya untuk apa itu galian? “Nggo mateni kiai,”  kata para pekerja. Saat itu tahunnya 1965.

Abah mengenang, menjelang September, tak pernah sepekanpun lewat tanpa ada pawai simpatisan PKI di Demak.  Mbah Kakung jarang tidur di rumah karena khawatir diculik. Guru-guru prokomunis di berbagai sekolah kerap menyelipkan propaganda di sela-sela mata pelajaran.

Pada hari yang sama sebelum kunjungan ke masjid, saya diajak bertandang ke rumah Pakde Sukri. Umurnya sudah lewat 80 tahun. Kediamannya kerap jadi tetirah Ayah saya dan saudara-saudaranya ketika berangkat atawa pulang mengaji.

Pada awal 1960-an, Pakde berkisah, sempat aktif di kepanduan dan dapat sedikit pendidikan militer awal. Dengan latar itu, saat G30S meledak, ia direkrut bersama dua orang dari kampungnya  jadi Banser NU. “Tapi saya ndak ikut begini-begini,” kisahnya sembari menggerak-gerakkan tangan kanan dalam gestur orang menebas dengan golok.

Ia tak ingat merasa marah saat G30S meletus. Yang ia ingat jelas adalah ketakutan. Itu rasa masih jelas di mata tuanya saat berkisah. “Suasananya kacau. Mushala-mushala pada dibakar,” kata dia. Dan ketakutan kemudian mendorong orang-orang melakukan hal-hal yang barangkali kemudian mereka sesali.

Di Demak, ada sejumlah aliran sungai. Di salah satu jembatan yang melintasi kali-kali itu, pembunuhan para aktivis PKI dan mereka yang dituding, mengambil tempat. Orang-orang PKI dijejerkan di jembatan, dipenggal, kemudian dibuang ke sungai. Tak ada yang tahu pasti jumlahnya.

Siapa saja yang dibunuh? Orang-orang bercerita, ada daftar yang entah darimana jatuh ke tangan masyarakat. Mbah Kakung saya, karena saat itu menjabat carik, ditugasi menyortir itu daftar. Dalam satu hal, ia mengarahkan siapa saja yang harus berangkat ke jembatan. Dalam lain hal, secara matematis, ia menyelamatkan banyak lainnya. 

Haruskah saya malu dengan sejarah itu?  Terus terang, saya tak tahu. Saya tak hidup di masa mereka. Saya tak merasakan ketakutan mereka. Saya tak harus pergi sekolah sembari menengok lubang menganga yang katanya bakal jadi kuburan massal buat para ulama. 

Bagaimana jika para pelaku yang sudah sedha tersebut tak merasa bahwa yang mereka lakukan saat itu salah? Bagaimana jika mereka bersikeras bahwa tindakan mereka, meski kebablasan, semata dorongan naluriah untuk bertahan hidup?

Yang bisa saya katakan, 1965 adalah genosida yang kompleks. Dalam terma yang paling simplisistik, ia adalah kelindan kemarahan dan ketakutan orang Islam (juga umat beragama lain) dengan niat jahat pemerintah. Yang lebih rinci, ia juga melibatkan kepentingan penguasaan lahan para kiai, penegasan cengkeraman politik TNI AD, dan rekayasa geopolitik Amerika Serikat, bahkan mungkin sengketa seni dan budaya. Seluruh anasir itu, sayangnya, bermuara pada pembantaian dan persekusi massal.   

Saya tak yakin pemerintah bisa sedemikian leluasa bertindak tanpa restu mayoritas yang takut dan berang. Saya kira persekusi juga bisa lebih lekas disudahi bila Washington tak ikut mendorong pemberangusan komunis.

Semisal 1965 adalah kesalahan, kita harus sukarela mengakui bahwa ia adalah kesalahan kolektif. Barangkali, bukan hanya negara saja yang mesti dituntut minta maaf secara resmi. Umat Islam juga minta maaf, TNI AD juga minta maaf, NU juga minta maaf, pemerintah Amerika Serikat juga minta maaf, Goenawan Muhammad juga minta maaf. []

Siapa Mau Jadi Bek?

Buat siapa juga yang sempat bermain bola sewaktu kecil atawa remaja kiranya paham, itu posisi pemain belakang bukan yang paling mudah diisi. Semua-semua inginnya main di tengah dan di depan saja supaya bisa bikin gol.

Tapi apa mau dikata, posisi-posisi itu lebih banyak jadi tempatnya pemain-pemain bagus. Model semenjana macam saya sewaktu kecil sering ditaruh dibelakang buat jaga gawang atau jaga penyerang lawan.

Sebab itu, saya punya penghormatan lebih buat pemain belakang yang bagus. Semisal engkau kerap bermain dibelakang sewaktu kecil atau remaja dan tetap dipandang sebagai pemain bagus, besar kemungkinan dirimu memang istimewa.

Nah, ada seorang remaja model itu di Kampung Sanggrahan, Meruya Utara, Kembangan, Jakarta Barat, bertahun lampau. Dia jadi andalan itu kampung di rerupa gelaran turnamen sepak bola. Tapi disitu saja ia berhenti. Putus sekolah selepas SMP, dia kemudian jadi supir tembak hingga belasan tahun ke depan alih-alih bermain untuk klub sepak bola.

Lain lagi cerita dari Keluarahan Pasir Putih, Mentawa baru, Ketapang, Sampit, Kalimantan Tengah. Sekira tiga tahun lalu, di tempat itu tinggal seorang laki-laki muda yang paham betul bagaimana benda-benda bekerja secara mekanis. Rerupa kendaraan dari sepeda motor hingga truk bisa ia dandani.

Tak hanya bikin bagus barang rusak, ia juga bisa bikin barang baru. Anak-anak di Pasir Putih masih ingat bagaimana lelaki itu membuatkan mereka sejenis panah mekanik untuk memburu anjing liar. Warga Pasir Putih juga ingat bahwa sang pria kerap bepergian dengan sepeda pancal yang bisa bergerak otomatis karena ia pasangi mesin yang sedianya untuk menggerakkan perahu.

Berapa banyak orang yang engkau kenal bisa membuat sepeda jalan sendiri didorong mesin perahu? Lelaki itu tak punya bengkel atau perakitan sendiri. Alih-alih, ia bekerja sebagai penjaga mesin genset untuk peternakan ayam potong.

Dua pria tersebut, barangkali sudah juga engkau baca di berita-berita, sudah tak bernyawa lagi. Menurut kepolisian, keduanya tewas sebagai pelaku dalam pengeboman dan penembakan di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pekan lalu.

Pria dari Meruya punya nama Muhammad Ali (40 tahun). Ia yang direkam fotografer menembak polantas di tengah jalan dari balik mobil hitam. Dalam kebetulan yang pahit, pada ujung hidupnya, Ali tewas dalam posisi bertahan di parkiran kafe Starbucks.

Sementara yang dari Sampit, Dian Juni Kurniadi (26 tahun). Ia disebut polisi sebagai pelaku bom bunuh diri di Pos Polantas Sarinah. Dua korban ia bawa mati. Alat yang dia pakai adalah bom tabung gas yang punya sejenis mekanisme saklar. Barang yang saya bayangkan tak sedemikian sukar dirakit oleh seseorang dengan keahlian memasang mesin perahu ke sepeda pancal.

Bolehlah kita sepakat bahwa para pelaku di Jalan Thamrin pekan lalu adalah orang-orang jahat. Tapi mereka tak sepenuhnya tolol. Selain Ali dan Dian, dua pelaku lainnya, Sunakim dan Ahmad Muhazan dikenal juga sebagai siswa berprestasi.

Saya tak hendak menjura para penjahat tersebut. Yang ingin saya bilang, ada konsekuensi berbahaya saat negara atau sistem pendidikan kita tak memberikan jalan keluar yang terhormat buat manusia-manusia berbakat, terlebih dari kelas menengah ke bawah, yang tinggal didalamnya.

Buat yang merasa (saya bilang merasa karena semua orang pasti lahir dengan kemampuan lebih tertentu) tak punya bakat, hidup yang tak maju-maju barangkali baik-baik saja. Tapi buat yang paham bahwa mereka istimewa, bahwa keistmewaan itu tak punya guna membawa mereka ke mana-mana saya kira sedikit banyak mesti bikin frustasi.

Bayangkan bagaimana rasanya saat seorang yang bisa mendaur ulang barang-barang jadi televisi baru, melihat hasil karyanya dibakar aparatus negara (yang sebagian kerjanya tak perlu bakat itu). Bagamana rasanya menemukan metode penyembuhan kanker mutakhir untuk kemudian dinegasikan sama pemerintah.

Bagaimana rasanya jadi orang-orang menghabiskan sepanjang masa mudanya berlatih sepak bola untuk kemudian melihat kompetisi dibekukan, bisa jadi sampai bakat mereka tak ada gunanya lagi.

Bagaimana rasanya saat engkau merasa bisa merangkai kata-kata dengan apik kemudian guru-guru di sekolah bilang tak mungkin cari hidup jadi penulis. Bagaimana rasanya jadi juara satu sepanjang sekolah, dapat kumlaud di kuliahan, kemudian pendapatmu disanggah orang tolol yang kebetulan punya jabatan karena sistem kepegawaian yang masih menganakemaskan para penjilat, dan engkau kemudian harus menurunkan kecerdasan supaya bisa merangkak dapat jabatan serupa dan kemudian lupa caranya jadi pintar.

Hal-hal itu tak jadi masalah semisal orang tua atau kerabat bisa memodali untuk cari jalan keluar. Yang menolak menyerah tentu tak sedikit, tapi banyak pula yang hanya melihat jalan buntu di hadapan.

Teror kemarin saya kira tak sekadar menunjukkan betapa bahayanya ideologi. Ia juga menunjukkan betapa keputusasaan bisa jadi barang yang mematikan. Berita buruknya, sementara ini negara kita masih punya banyak sekali persediaan orang-orang yang putus asa. []

 

 

Yang Perlu Anda Tahu Soal Serangan Jakarta

Oke, sekarang sudah hari ketiga selepas teror. Sejumlah informasi kunci sudah mengemuka dan mulai bisa diuji. Mari menganalisis informasi-informasi tersebut dan menyarikan yang penting-penting. Saya tentunya bukan yang paling paham, tapi kebetulan kerja kantor entah bagaimana mengantarkan saya ke banyak sekali kasus dan persidangan terorisme yang mengemuka sejak 2009. Jadi kita mulai saja, terserah mau percaya atau tidak.

Benarkah ISIS dalang dibalik serangan?

Saya kira ini kesimpulan yang sedikit terlampau menyederhanakan. Begini, kita sedikitnya sudah paham soal latar belakang salah satu penyerang, yang disebut polisi dengan alias Afif  (itu yang pakai topi hitam dan celana gawol). Yang bersangkutan pernah ditahan selama dua tahun sejak 2010 karena ikut pelatihan militer ilegal di Aceh.

Sementara dalangnya, kata Polisi, bernama Bahrun Naim yang disebut sekarang berada di Suriah dan punya ambisi jadi bosnya ISIS di Asia Tenggara. Berdasar catatan kepolisian Solo, Bahrun Naim pada 2008 bergabung dengan Jamaah Anshorut Tauhid bentukan Abu Bakar Baasyir.

Nama dia muncul pada 2010 ketika ditangkap oleh Densus 88 di Solo. Saat itu, ia ditangkap bersama sejumlah barang bukti ratusan butir amunisi ilegal dan disebut berencana menyerang Presiden Obama ketika berkunjung ke Indonesia. Pada 2011, ia divonis hukuman dua setengah tahun.

Artinya, polisi sudah paham dua orang itu otaknya sudah tak beres jauh sebelum ISIS terbentuk di Irak pada 2013. Demikian juga Santoso, gembong teroris mitikal yang kabarnya sekarang bersembunyi di Poso. Dia juga baru-baru saja menyataan baiat pada ISIS.

Ini khas teroris dan kelompok teroris dari Tanah Air. Soal Alqaidah, Jamaah Islamiyah, atau ISIS sedianya hanya pakaian saja. Akar mereka sudah jauh mengular sejak pemberontakan DI/TII dan kemudian tekanan Orde Baru terhadap kelompok Islam. Ia tak sepenuhnya perlu punya kaitan dengan yang di Timur Tengah walau itu hal jadi alasan juga.

Apakah benar teror kemarin masuk dalam rangkaian serangan ISIS di mancanegara?

Ini lebih pelik dijawab. Secara pola, serangan kemarin memang mirip dengan yang di Paris dan Tunisia. Ada sekelompok bersenjata menyerang dengan bom dan senapan secara terkordinasi. Tapi, melihat yang disasar, ada yang unik. Anda sah-sah saja bertanya-tanya, mengapa dari sekian banyak orang para penyerang nampaknya hanya menyasar petugas polisi? Hal ini tak seperti di Paris dan Tunisia yang sasarannya lebih tak diskriminatif.

Dari hal itu, saya ingin mengajak menengok hubungan unik pelaku teror dan polisi di Indonesia. Indonesia bisa dibilang satu dari sedikit saja negara yang memberantas teorisme dengan aparat sipil. Di belahan dunia lain, militer yang lebih mengemuka sebagai ujung tombak.

Pilihan ini mulanya, dan saya yakini masih, jadi pilihan tepat buat Indonesia. Namun, tak jarang kita dengar penangkapan dilakukan dengan eksesif. Beberapa kali, terlebih sejak 2009, Densus 88 melakukan pembunuhan ekstrajudisial terhadap para terduga (ingat, sebenarnya tak ada status hukum “terduga” di perundangan Indonesia).

Di Poso, sejak 2010, polisi dan para terduga teroris sudah bakuburu dan bakubunuh. Dia orang macam tenggelam dengan perangnya sendiri, jauh dari sorotan di Ibu kota. Misalnya ada polisi terbunuh, besoknya ada desa yang dikepung, orang-orang dianiaya kemudian dipenjara, lusanya ada polisi dibunuh lagi.

Saat ISIS digaungkan sebagai ancaman oleh pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono pada awal hingga pertengahan 2014, penangkapan menjadi-jadi. Dari tukang es sampai pasangan suami istri yang punya atribut ISIS diciduk dan sebagian tak jelas bagaimana kelanjutan kasusnya.

Tiba-tiba, kelompok di Poso yang sudah lama ada tersebut juga dibilang pemerintah punya kaitan dengan ISIS. Walhasil, militer melakukan aksi latihan (harus dibilang latihan karena sekali lagi, Indonesia secara resmi tak melibatkan militer dalam pemberantasan terorisme) besar-besaran di Poso. Menjelang Natal tahun lalu, dengan presumsi bahwa para teroris merencanakan pengeboman, frekuensi penangkapan meningkat. Sebagian penangkapan itu juga tak sepenuhnya legal.

Berarti penangkapan agresif oleh kepolisian ikut pemicu penyerangan?

Itu teori yang menarik. Ia sebenarnya bisa menyempitkan konflik antara para teroris dan kepolisian saja dan kemudian membuat penyelesaiannya lebih kelihatan. Sayangnya, pemerintah nampaknya bergerak kearah sebaliknya. Penangkapan-penangkapan dan pembunuhan terduga teroris yang masih dipertanyakan legalitasnya itu bisa jadi kian meluas dengan keinginan pemerintah merevisi UU Antiterorisme.

Penyerangan kemarin juga mengindikasikan sejenis ketakefektifan dalam program deradikalisasi para teroris. Sebab, setidaknya dua orang yang ditahan pernah dipenjara dan tentunya ikut program pembersihan otak.

Nah, pertanyaan pentingnya, kita perlu takut atau tidak?

Semisal paparan saya di atas sepenuhnya benar, jawabannya tetap tergantung siapa yang Anda tanyai. Buat para petugas keamanan, tentu jawabannya iya. Tapi bagaimanapun, sudah tugas mereka untuk berdiri di ambang bahaya. Barangkali, sadar atau tidak, masyarakat awam sudah paham juga soal sasar menyasar teroris dan kepolisian ini sehingga ketakutan yang muncul tak berlebihan.

Pertanyaan soal takut atau tidak ini juga sedianya retoris. Tentu saja kita orang takut dengan terorisme. Tapi, ia berbahaya saat ditunjukkan berlebihan. Satu, ia bisa bikin para pelaku atau dalang penyerangan girang karena berhasil. Dua, dia bisa bikin pemerintah mencuri kesempatan untuk memberangus kebebasan warga dengan dalih rasa takut tersebut.

Hanya satu hari setelah penyerangan kemarin, tiga orang ditangkap dengan dalih pemberantasan terorisme berdasarkan laporan palsu. Kita, orang Indonesia, saya rasa paham betul bagaimana bisa jadi jahatnya pemerintah saat rasa takut kita dimanipulasi. []

 

El Nino dan Ibn Khaldun…

Ada yang tak biasa pada akhir tahun dan awal tahun ini di katulistiwa. Merunut waktu, ia mestinya tergolong musim penghujan. Masa buat para petani mulai menggemburkan ladang, menabur benih, menebar pupuk.

Tapi hujan tak sedemikian banyak turun di sebagian tempat. Ia tak cukup buat menutup rekahan-rekahan di tanah yang disayatkan musim kemarau tahun lalu.

Suhu siang hari yang terlampau panas membuat air irigasi dari sumur pompa dan waduk serta intake lekas menguap. Padi menguning jauh lebih lekas sebelum waktunya. Kalender tanam kemudian jadi berantakan.

Buat sementara orang itu hal barangkali dianggap susahnya petani semata. Toh ada beras impor yang bisa didatangkan guna memenuhi stok. Benarkah demikian?

Begini, dahulu sekali, ada seorang pria bernama Abu Zayid Abdurrahman. Ia lahir di Tunis pada abad ke-14 dan wafat di Kairo pada awal abad ke-15. Manusia satu itu luar biasa cerdasnya. Hafal Alquran dan menguasai ilmu-ilmu agama pada usia muda.

Seiring usianya, banyak ilmu lain yang ia serap, banyak jabatan politik ia diami sampai ia kemudian merasa cukup. Dalam tetirahnya, ia merencanakan untuk merangkum sejarah dunia dalam sebuah buku besar. Pada 1377, bab pembuka dari buku itu ia rampungkan, dan dunia terpana sampai berabad-abad kemudian.

Dalam pembuka itu, ia merombak ilmu pengetahuan. Sejarah dunia ia lepaskan dari segala unsur mistisnya dan ia jelaskan dalam sebuah teori terpadu. Peradaban ia bedah kemudian ia cermati naik turunnya.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, akhirnya ada yang menjelaskan bagaimana ekonomi berperan membentuk peradaban. Bagaimana modal, permintaan, dan persediaan bekerja. Ia menjelaskan dasar teori evolusi saat teori itu belum lagi punya nama.  Orang-orang kemudian lebih mengenal pria itu dengan nama leluhurnya, Ibn Khaldun.

Nah, saya ingin bicara tentang sat teori khusus dalam Muqaddimah, nama bab pembuka yang ia tulis tersebut. Dalam satu titik pada bukunya, Ibn Khaldun berteori bahwa iklim punya pengaruh penting terhadap perkembangan masyarakat.

Ia mencontohkan bagaimana wilayah-wilayah dengan iklim hangat hangat seperti Timur Tengah dan Mediterania adalah juga tempat lahirnya peradaban-peradaban besar. Sebaliknya, daerah yang jauh lebih dingin cenderung barbarik. Selain banyak faktor lainnya, Ibn Khaldun menilai cuaca juga tak sedikit perannya memahat peradaban.

Pada 1997, 620 tahun setelah Muqaddimah, teori bahwa cuaca punya peran menyetir arah peradaban sedikit banyak terbukti. Saat itu, pada pertengahan tahun, terjadi penghangatan pada permukaan Samudra Pasifik. Fenomena cuaca itu lebih kita kenal dengan nama El Nino.

Singkatnya, fenomena cuaca itu memicu kekeringan parah di Indonesia. Kemarau bertahan hingga akhir 1997, dan mengganggu siklus hujan pada awal 1998.

Menurut penelitian Asian Disaster Preparedness Center dibantu rerupa lembaga dan kementerian di Indonesia, anomali curah hujan tersebut kemudian menimbulkan penurunan lahan panen sebanyak 380 ribu hektare.

Pemerintah saat itu mencoba menstabilkan harga beras yang naik karena panen berkurang dengan mengimpor lima juta ton beras. Tapi dampak berkurangnya panen dan krisis moneter teralu kuat sehingga harga beras tetap naik hingga 300 persen. Tak terjangkau lagi untuk kelas menengah ke bawah Indonesia.

El Nino juga mengakibatkan kemarau yang membuat parah kebakaran hutan akibat pembukaan lahan besar-besaran saat itu. Ia merusak 9,7 juta hektare hutan. Menimbulkan kerugian senilai 9 miliar dolar AS, dan mengganggu pendapatan negara dari sektor perhutanan yang saat itu jumlahnya mencapai 15 persen dari keseluruhan pendapatan dari sumber asing. Di Kalimantan, kebakaran hutan juga memicu belalang keluar dari hutan dan kemudian merusak tanaman petani.

Kemahalan pangan pada akhirnya ikut jadi faktor yang membulatkan tekad orang-orang bahwa 32 tahun sudah cukup. Dan Indonesia kemudian berbelok arah.

Nah, yang terjadi pada ahir tahun dan awal tahun ini serupa dengan 1997-1998 tersebut. BMKG memprakirakan, El Nino kali ini bisa sama dahsyatnya. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) bahkan bikin perkiraan bahwa El Nino kali ini bisa jadi lebih dahsyat.

Ia bakal punya dampak masif bukan hanya untuk Indonesia. Ia bisa memicu kelaparan di Afrika karena kegagalan panen. Bisa juga menimbulkan rerupa banjir dan badai di bagian dunia lainnya.

Sebagian menilai, perubahan dan anomali iklim ini tak semata aksi sepihak dari alam. Ia juga reaksi dari ratusan tahun manusia membuat kerusakan di laut dan muka bumi seiring industrialisasi dan eksploitasi sumber daya alam.

Teori iklim Ibn Khaldun kemudian jadi semacam siklus. Mula-mula iklim ikut membantu membentuk peradaban. Peradaban-peradaban kemudian berekspansi dan mengeksploitasi bumi. Eksploitasi itu kemudian membikin anomali cuaca yang pada akhirnya punya potensi kembali merubah arah peradaban.

Kita belum paham bagaimana impak dari anomali cuaca yang belakangan mendera. Mudah-mudahan, ia bisa jadi pemicu bagi umat manusia untuk mengoreksi penghancuran diri sendiri yang mereka inisisasi berpuluh tahun belakangan.

Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Alquran, Arruum ayat 41.

Mengapa Orang-orang tak Marah?

Jadi begini. Pada akhir tahun lalu, Bank Dunia bikin laporan. Dia orang mencatat bahwa rasio Gini, indikator yang menunjukkan kesenjangan pendapatan, di Indonesia mencapai 0,41 poin.  Tahun ini, dalam perkiraan Bank Dunia, ia bisa mencapai 0,42 bila keadaan tak diperbaiki.

Rasio Gini tak dihitung dalam angka besar. Poin 0 artinya tak ada kesenjangan sama sekali, sedangkan angka 1 menunjukkan ketimpangan mutlak.

Mesir, sewaktu bergolak, rasio Gini-nya 0,43 persen. Artinya, kondisi di Indonesia bukan menggembirakan. Ia berada di ambang jurang. Sedikit dorongan, ia terjerembab dalam pusaran perang kelas. Tapi mengapa tak sedemikian terdengar suara orang-orang yang marah?

Harga daging, beras, ayam, rerupa hasil tani macam beras, bawang, dan cabai, juga bukan murah lagi sekarang. Mengapa orang-orang tak marah?

Ratusan ribu buruh telah di PHK sejak pertengahan tahun lalu. Ribuan lainnya dirumahkan. Sementara pekerja-pekerja asing bakal dapat akses masuk Indonesia. Mengapa orang-orang tak marah?

Mari bicara statistik terlebih dahulu. Lagi-lagi menurut Bank Dunia, jumlah kelas menengah di Indonesia beberapa tahun belakangan mencapai sekira 56 persen. Banyak? Nanti dulu.

Kalau dibedah lagi parameternya, jumlah itu sebagian besar ditopang oleh manusia-manusia Indonesia dengan penghasilan Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta yang mencapai 38 persen dari total penduduk Indonesia. Jaman begini, bisa makan apa dengan Rp 1,5 juta per bulan?

Kalau saya yang bikin hitungan, saya dengan suka hati memasukkan dia orang ke dalam kelas bawah. Dengan begitu, prosentase masyarakat bawah bisa mencapai 70 sampai 80 persen.

Jumlah itu lebih masuk akal bila disatukan dengan laporan dari Internet Society dan lembaga konsultan TPRC yang dilansir September tahun lalu. Lembaga itu melaporkan bahwa penetrasi internet di Indonesia saat ini baru berkisar di angka 16 persen. Ironisnya, dengan jumlah penduduk sebegini, ia adalah angka terendah di ASEAN.

Menurut Intenet Society, penetrasi internet tersebut juga dibayangi dengan kesenjangan pendapatan yang saya kabarkan di atas. Artinya, pengguna internet sebagian besar sekali datang dari kelas menengah dan atas.

Saya memaparkan itu statistik karena menurut saya, ia punya hubungan erat dengan pertanyaan mengapa suara mereka yang susah sekali hidupnya jarang terdengar. Terlebih bila statistik di atas diracik dalam tungku yang namanya media sosial.

Yang dibicarakan dan dibikin ramai 16 persen di internet, tentunya hal-hal yang menurut mereka penting. Hal-hal model layanan transportasi pesawat yang kacau, ojek daring yang mau dihentikan pemerintah, demo buruh yang bikin macet. Atau barang-barang abstrak macam langgam baca Alquran, kesetaraan jender, kecenderungan beragama, laku anggota DPR, tingkah Presiden. Atau barang-barang sepele yang bikin hidup mereka yang sedianya tak begitu sengsara itu jadi agak lebih susah.

Sebagian media dengan suka hati merengkuh itu perdebatan. Wajar saja, karena untuk media daring terutama, 16 persen yang berdebat itulah penyambung profit mereka.

Pemerintah juga ikut-ikutan. Rajin blusukan namun yang ditanggapi justru bukan dari kenyataan. Bila yang ramai di media sosial lekas sekali mengambil sikap, sementara ribuan yang demo turun ke jalan dia abaikan saja. Yang mati di dunia nyata jadi tak sedemikian penting lagi bila tak naik di status //facebook// atau kicauan //twitter// para warga maya.

Barangkali banyak sekali orang sebenarnya sudah marah. Hanya saja, mereka yang marah ini terbungkam suaranya sama keriuhan para netizen. 28,59 juta orang yang hidup di bawah garis kemiskinan dan tak punya akses internet itu jadi semacam hantu saja. []

 

 

 

 

 

Senjakala Ekspresi… ;)

Katakanlah semalam, saya terlibat debat dengan seseorang di salah satu aplikasi pesan yang sudah jadi semacam organ tambahan manusia belakangan. Dia kemudian menyampaikan sesuatu yang saya tak setuju tapi terlalu berbahaya kalau saya sampaikan ketidaksetujuan itu karena ia bisa bikin yang empunya pendapat sakit hati. Lagi pula, malam sudah larut dan saya berencana menyudahi itu saling tukar teks.

Apa yang harus saya jawab? Saya berencana menulis “Ya begitulah”. Tapi, kemudian saya khawatir jawaban begitu saja tak cukup. Dari situ, saya merancang bagaimana kalimat itu harus berakhir. Apakah harus dengan ellipsis (Ya begitulah…) untuk menunjukkan bahwa persetujuan saya belum pungkas, atau dengan ikonrasa (Ya begitulah… J) untuk menunjukkan persetujuan yang terkesan sarkastik, atau dengan dengan tanda seru (Ya begitulah!) untuk menunjukkan persetujuan mutlak, atau dengan teks tawa (Ya begitulah hehehe) guna mencairkan perdebatan?

Begini, pada masa yang lampau sekali, manusia dibentuk satu paket dengan yang namanya ekspresi universal. Menurut Doktor Paul Ekman, ahli sikologi AS yang sekarang sudah lewat, ada tujuh macam ekspresi yang secara alamiah jadi bawaan manusia terlepas dari mana mereka berasal. Di antaranya jijik, marah, takut, sedih, senang, terkejut, dan benci.

Seiring masa, manusia belajar menggunakan itu barang untuk rerupa hal. Dalam perbincangan, ia bisa dipakai menyembunyikan atau menegaskan maksud. Bisa dipakai untuk menujukkan sarkasme bila digunakan bersama dengan kalimat yang kontradiktif.

Intinya, dia anugerah yang bermanfaat sekali untuk menghindarkan kesalahpahaman saat manusia berbincang sembari bertatap muka dengan manusia lain. Yang jadi masalah, kemanusiaan saat ini sedang dalam sejenis senjakala “bertatap muka dengan manusia lain”.

Rerupa ekspresi wajah yang susah-susah kita pelajari sedari bayi itu kemudian jadi berkurang gunanya. Sementara maksud (yang tersurat, tersirat, maupun terselubung) harus terus disampaikan lewat teks-teks dalam aplikasi pesan.

Di sini ajaibnya manusia. Tak perlu waktu berpuluh tahun, kita orang lekas beradaptasi dengan itu hal. Kita nampaknya cepat sekali belajar menggantikan ekspresi dengan variasi subtil dalam teks.

Misalnya istri saya tetiba lewat teks ingin secara licik dengan mesra meminta bantuan saya membeli galon Aqua selepas kerja, ia terkadang hanya menambahkan huruf dalam tulisan ditambah ellipsis ditambah ikonrasa “Ayah, nanti pulang belikan galon yaaa… :)”.

Saya juga bisa menjawab secara subtil soal kesediaan saya terkait permintaan itu. Kalau saya menjawab “siap” berarti saya sepenuhnya bersedia. Kalau saya menjawab “OK”, bisa berarti separuh hati lagi malas. Kalau saya menjawab “iya” berarti dua pertiga hati malas tapi apa boleh buat. Kalau saya menjawab “ogah” berarti lagi ingin cari masalah. Kalau saya menjawab “IYA” atawa “OGAH” dengan huruf besar semua, berarti saya benar-benar ingin cari masalah.

Bagaimanapun, kepekaan manusia soal teks ini tak seragam. Kesenjangan tafsir soal maksud-maksud terselubung dalam teks kadakala saya rasakan keterlaluan dibandingkan saat kita bertatap muka. Barangkali itu yang membuat forum debat di sosial media, kolom komentar media daring, maupun grup obrolan maya jadi sedemikian ramai.

Imajinasi manusia adalah hal yang sedemikian kuat. Semua teks yang dituliskan lawan debat kerap kita bayangkan ditulis dengan mimik marah atau mencela walaupun tak selalu demikian. Ujung-ujungnya, kita membalas dengan geram, dan debat jadi panjang macam ketiak ular.

Sebab itu, berhati-hatilah dengan yang kau tulis?, maksud saya, berhati-hatilah dengan yang kau tulis! atau, berhati-hatilah dengan yang kau tulis… 😉

Tidak Atas Nama Kami, Orang Tua…

Saya ingat pernah bertemu seorang gadis bernama Sara Lee di Hainan, Cina, awal tahun lalu. Ia 19 tahun, tak tinggi, mengenakan blus dari dekade lampau. Ia mahasiswa baru di Universitas Normal Hainan (sumpah, itu nama sekolah dia).

Jurusan yang ia ambil, jurnalisme. Dia bilang, selepas lulus dia ingin melanjutkan sekolah ke Columbia University di Amerika Serikat, kemudian menulis di surat kabar. Saya sukar menahan tawa saat dengar dia punya cita-cita.

Begini, Hainan bukan Beijing. Bukan juga Guangzhou atau Hongkong. Tak ada gemerlap metropolitan saat engkau tiba di bandaranya. Begitu turun dari pesawat, engkau bisa langsung punya bayangan bagaimana seandainya dulu PKI berjaya di Indonesia.

Ada patung-patung rerupa pekerja proletar mengepalkan tangan kiri. Nelayan, petani, buruh, seluruhnya. Gambar Ketua Mao dipajang besar-besar. Tak seperti di Beijing, orang-orang masih menatap pendatang dengan curiga di bagian Cina yang satu itu.

Para pendamping dan penghubung tak bebas berbicara, konteks disembunyikan rapat-rapat. Cina secara keseluruhan sudah ternama sebagai negara yang serba tertutup akses informasinya. Di Hainan, ia mencapai tingkatan tersendiri.

Dari itu saya kemudian bertanya pada Sara Lee, apa yang membuatnya ingin jadi wartawan surat kabar di tengah keadaan yang demikian? Tidakkah ia takut dipenjara semisal nantinya menulis yang dianggap Partai tak pantas?

Lagi pula, Cina punya berlaksa-laksa kesempatan bagi kaum mudanya. Engkau bisa jadi miliarder hanya bermodal ide seperti Jack Ma, bisa jadi bintang film, bisa jadi pegawai negeri yang di Cina sama menguntungkannya dengan di Tanah Air. Bisa jadi karyawan perusahaan multinasional yang merangsek ke sudut-sudut terpencil dunia.

Dan bagaimana itu dengan koran yang kabarnya sebentar lagi tak laku? Bahkan di Cina yang kecepatan internetnya naudzubillah, itu barang yang namanya senjakala media cetak sudah jadi pembicaraan juga.

Ada kilat di balik kaca mata Sara Lee saat mendengar pertanyaan saya. Ia berdiri, kemudian mengatakan dengan bahasa Inggris terpatah-patah, “selama masih ada cahaya, walaupun kecil, akan saya kejar. Kalau sudah tak ada cahaya, dalam kegelapan, saya akan menyalakan lilin”. Saya terdiam kendati tangan bergerak mencatat itu kata-kata ke selembar kertas yang masih saya simpan sampai sekarang.

Barangkali engkau sudah bisa menebak bahwa Sara Lee muncul kembali ke ingatan saya selepas muncul itu tulisan dari orang tua tertentu yang bikin ramai belakangan. Tulisan yang bikin meradang para pegiat jurnalisme daring dan wartawan-wartawan muda sekaligus.

Saya jengah karena seakan-akan itu tulisan mewakili semua wartawan media cetak. Bahwa pesimisme serupa dibagi oleh kami seluruhnya. Ingin saya tegaskan, tak demikian juga sebetulnya.

Tidak, saya tak hendak menyangkal “senjakala”. Hanya orang-orang yang tinggal di gua yang menafikkan itu masa yang menjelang. Yang ingin saya bilang, tak semua dari kami menyambut senjakala tersebut dengan berkeluh-kesah seperti itu orang tua yang tulisannya bikin ribut.

Kami, terutama yang belum tua, saya kira sudah paham resiko apa yang menjelang saat memilih jalan ini sebagai jalan kami. Jalan yang tak menjanjikan kekayaan, jabatan, atau jaminan hari tua. Sebagian dari kami memilih ini jalan benar-benar karena percaya ia bisa jadi ikhtiar untuk membikin baik keadaan.

Salah satu pesan Nabi Muhammad (damai atasnya) yang paling saya suka adalah saat Beliau menyuruh kami menanam biji kurma yang kita pegang di tangan walaupun paham esok hari kiamat tiba. Saya kira, Ia akan marah betul kalau melihat kami bekerja setengah hati hanya karena ada senjakala yang menjelang.

Seperti yang dibilang Sara Lee, jangan kata temaram, gelap pun tak seharusnya ditakuti. Kata orang Betawi, “jangan kate waktu magrib, tengah malam kite jabanin”. Siapa tahu, saat malam hari tiba, ia akan jadi petualangan yang jauh lebih seru. Buat yang pesimistis, silahkan minggir dari jalan. Nikmati pensiun dengan tenang. []

Bara di Talang Air

Menara talang air setinggi 35 meter itu masih tegak berdiri, meski tampak tak terurus. Bagian atas bangunan tersebut, yang bentuknya kerucut terbalik, kusam penuh noda hitam. Di sekitar talang air itu, terlihat bangunan-bangunan dengan kondisi tak kalah mengenaskan. Pintu dan jendela jebol, cat terkelupas, dan atap-atapnya copot di sana-sini. Ada pagar setingggi dua meter yang mengelilingi kompleks talang air.

Bangunan peninggalan zaman Belanda itu terletak tak jauh dari Pelabuhan Kabupaten Biak Numfor, Papua. Di puncaknya, bendera pergerakan nasionalis Papua Barat, Bintang Kejora, pernah berkibar selama empat hari, dari 2 Juli sampai 6 Juli 1998.

Rentang waktu tersebut adalah masa terlama bendera Bintang Kejora pernah berkibar di muka umum di seantero Papua. Kejadian yang mengambil tempat setelah pengibaran itu juga merupakan salah satu episode paling kelam dalam ingatan warga Biak. Saat riuh piala dunia menyapu seantero dunia, Biak punya riuhnya sendiri.

Saya bertemu dengan salah seorang saksi peristiwa tersebut tak jauh dari lokasi, pekan lalu. Dia seorang pria berumur sekitar 40 tahun yang saat ini bekerja di salah satu dinas di Pemkab Biak.

Untuk keselamatan dan keberlangsungan pekerjaannya, ia minta namanya ditulis John saja. Ia berulang kali pindah dari kampus ke kampus di Jawa dan Bali karena aktif mendukung kemerdekaan Papua semasa kuliah.

Sudah bukan rahasia, salah satu penggagas pengibaran bendera di Biak kala itu adalah Filep Karma, yang kini tengah mendekam di Penjara Abepura, Jayapura, terkait peristiwa tersebut. Menurut John, ia mengetahui secara langsung awal mula kejadian di talang air.

Pada 30 Juni 1998, menurut John, ia hadir di kediaman orang tua Filep Karma di Biak. Ia mendengar, Filep meminta izin kepada ayahnya yang tengah sakit, Andreas Karma, untuk mengibarkan bendera. “Bapa (Andreas) bilang sama Filep, Ko (kamu) punya senjata berapa, punya pasukan berapa mau kasi naik bendera?” ujar dia.

Artinya, menurut John, Andreas tak mengizinkan Filep mengibarkan Bintang Kejora. “Tapi, sekarang sudah lain. Biar saya berjuang dangan cara saya sendiri,” ujar John menirukan jawaban Filep untuk Andreas.

Saat itu di Papua beredar surat dari seorang anggota parlemen Amerika Serikat (AS) yang meminta Pemerintah Indonesia mempertimbangkan kedudukan politik warga Papua. Merasa mempunyai dukungan internasional, menurut John, Filep meyakini, saat itulah saat paling tepat mengumumkan kemerdekaan Papua Barat.

Buat para pendukung kemerdekan di Papua, persoalan masuknya wilayah itu ke Indonesia adalah persoalan yang belum pungkas. Mereka menilai, referendum yang digelar pada 1969 cacat karena tak menyertakan seluruh warga asli Papua. Saat itu, sekira seribu orang perwakilan dipilih Pemerintah Indonesia dan mereka kemudian secara bulat menyatakan kesediaan bergabung dengan Republika.
Kelompok yang menolak keputusan bergabung tersebut kemudian memproklamasikan berdirinya negara Papua Barat pada 1 Juli 1971. Sejak itu, upaya-upaya memisahkan Papua dari Republik Indonesia terus dilakukan. Utamanya oleh Organisasi Papua Merdeka.

Tepat 27 tahun kemudian, pada 1 Juli 1998, Filep kemudian menggelar demonstrasi di bawah talang air. Sekitar 50 sampai 80 orang hadir saat itu. Dalam aksi unjuk rasa itu kemudian dibacakan tuntutan kemerdekaan dan perlakuan adil terhadap warga Papua. John mengatakan, Andreas sempat hadir saat pembacaan tuntutan, namun kemudian pulang karena kondisi badan tak sehat.

Pukul 05.00 pagi, Filep dan puluhan warga kemudian menaikkan bendera ke puncak talang air. Setelah itu, seketika ratusan orang dari seantero Biak berkumpul di bawah talang air. John menuturkan, ia sendiri terkejut melihat jumlah orang yang hadir. “Ada yang PNS, ada yang dari kampung-kampung sana,” ujar John.

Tentara dan kepala daerah setempat, menurut John, sempat mendatangi lokasi demonstrasi untuk meminta para demonstran menurunkan bendera. Tapi, permintaan itu tak digubris. Orasi-orasi terus digaungkan. Tarian-tarian adat pun terus digelar.

Jalan-jalan di Biak lengang. Pasar Impres yang terletak tak jauh dari talang air juga sepi. Warga pendatang di Biak yang melintas di daerah sekitar lokasi harus membayar visa masuk seharga Rp 500 rupiah. “Kita juga disuruh berhenti dan hormat bendera (Bintang Kejora),” kisah Siti Khus, salah satu warga pendatang di Biak.

Tentara akhirnya habis kesabaran pada Ahad, 5 Juli. Ketika itu, mereka mendatangi gereja-gereja dan meminta pendeta membujuk para peserta aksi pulang ke rumah dengan ancaman penertiban paksa. John salah satu yang mengetahui imbauan itu. Pada 6 Juli dini hari, dia mengumpulkan saudara-saudaranya dan kerabat yang masih bertahan di bawah talang air untuk bergerak pulang.

Ia berpapasan dengan truk tentara dan brimob yang menuju ke talang air. “Kalau terlambat sedikit saja mungkin saya sudah tra (tidak) ada,” kata dia.

John mendengar rentetan tembakan memecah subuh. Pang..pang pang, terus menyambung sampai matahari naik. Seorang perwira TNI AD di Biak mengiyakan kesaksian John. “Waktu itu kita datangkan dari Ambon pasukannya. Dari Jayapura juga,” ujar dia.

Dari kepolisian, brimob ikut diturunkan. Orang-orang ramai menyaksikan bagaimana sebagian tentara dan polisi turun menggunakan tali dari helikopter ke puncak talang air dan menurunkan bendera. Perwira itu tak lebih jauh menceritakan detail peristiwa, tapi mengakui beberapa warga tewas tertembak.

Imron (40 tahun), warga yang tinggal dekat talang air mengatakan, ia menyaksikan puluhan peserta aksi digiring ke pelabuhan setelah bendera berhasil diturunkan. Para peserta aksi ditahan di pelabuhan sampai sekitar tiga hari.

Menurut John, selepas peristiwa talang air, pembangunan di Biak seperti berhenti. Kantor-kantor tak diperbarui, pusat perbelanjaan tak bertambah, jarang pula dibuka kompleks perumahan baru. Pabrik-pabrik pengalengan ikan dan pengolahan kayu rata dengan tanah. “Hanya tentara saja yang tambah banyak,” ujar John.

Kendati tak pernah lagi terjadi pertunjukan terbuka aspirasi kemerdekaan Papua di Biak, masyarakat setempat punya cara sendiri untuk memberontak. Bahkan, di pulau-pulau terpencil di Biak, ada tanda-tanda tersembunyi dukungan terhadap kemerdekaan. Ada kerang yang disusun membentuk bendera Bintang Kejora di jalan kampung, juga rumah yang dicat garis-garis biru, putih, dan merah, warna dasar bendera Bintang Kejora. Tanah-tanah milik warga asli Biak juga tak pernah rela diserahkan untuk pembangunan.

Keadaan di Biak serta penembakan oleh kelompok bersenjata maupun aparat keamanan yang terus terjadi di Papua belakangan seperti mencerminkan, aspirasi kemerdekaan di Papua masih jauh dari padam. []

Tulisan ini dimuat di rubrik Podium Koran Republika pada 7 Desember 2012.